Friday, 28 June 2013

Makanan Haram Menurut Pandangan Islam

Akhbar Islam

Oleh Firman Santosa
Date
                Tags → ,


Makanan Haram Menurut Pandangan Islam

Makanan merupakan sumber kekuatan manusia untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Tapi alangkah mulianya jika makanan tersebut dikonsumsi dengan niat untuk beribadah kepada Allah SWT. Terkait dengan masalah makanan, dewasa ini umat muslim banyak dipengaruhi oleh tren hidup global, sadar atau tidak mereka sudah terseret kedalam arusnya. Saat ini masih sulit untuk membedakan antara makanan yang halal dan haram.

Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan bagi kaum Muslim. Karena sedikitnya informasi yang menjelaskan status hukum sebuah produk sudah barang tentu membatasi pilihannya. Sehingga siapa pun akan mudah terjebak mengonsumsi barang yang haram. Padahal, Allah dan Rasul-Nya telah menegaskan dengan sangat jelas bahwa Allah akan mencukupkan rezeki mereka sebagaimana termaktub dalam firman-Nya, yang artinya, “Dan berapa banyak binatang yang tidak dapat membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-‘Ankabut: 60). Dalam Islam, kita tidak diperbolehkan serta merta mengonsumsi makanan tanpa menilainya dari segi halal dan haram. Islam tidak mungkin melarang atau memerintahkan umatnya melakukan sesuatu tanpa alasan yang jelas. Begitu juga dalam soal makanan haram. Karena makanan yang dikonsumsi manusia tidak hanya berpengaruh terhadap kesehatan jasmaninya saja, akan tetapi juga berpengaruh terhadap kesehatan rohaninya. Makanan yang halal, baik dan bersih akan membentuk jiwa yang suci dan jasmani yang sehat. Sebaliknya, makanan yang haram akan membentuk jiwa yang keji dan hewani.

Makanan haram dalam perspektif Islam

Islam membagi makanan haram ke dalam dua jenis. Pertama, makanan yang haram karena zatnya sendiri. Artinya, makanan itu telah masuk dalam kategori makanan yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dengan alasan makanan tersebut tidak baik untuk kesehatan jasmani dan rohani manusia. Jika dikonsumsi maka akan menimbulkan penyakit pada tubuh manusia. Di antara makanan haram yang masuk kategori di atas adalah darah, bangkai, daging babi, daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah, hewan yang mati karena terpukul, tercekik, terjatuh, dan diterkam binatang buas. Hal tersebut dijelaskan dalam Surah al-Maidah ayat 3, yang artinya, “Diharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya.”

Dari ayat diatas dapat kita simpulkan bahwa Allah sudah merinci makanan haram dengan sangat detil. Lain halnya dengan makanan halal, Allah tidak menjelaskannya secara detail. Mengapa demikian? Karena asal hukum makanan adalah halal, maka Allah tidak merinci dalam al-Qur’an satu persatu. Begitu juga Rasulullah SAW dalam hadis-hadisnya. Ini berarti jumlah dan jenis makanan yang haram itu jauh lebih sedikit dibandingkan dengan makanan halal. Maka amat logis jika dalam kaidah pertama dan utama dari hukum fiqh menyatakan, “Apapun yang bisa dikonsumsi adalah halal, kecuali yang diharamkan.” Sesuatu belum jelas status hukumnya, atau terletak antara halal dan haram, memiliki kedudukan sendiri yang disebut syubhat. Dan Rasulullah sudah melarang kita untuk mendekati segala yang syubhat.

Kedua, makanan yang haram bukan karena zatnya. Asal hukum makanan itu halal, akan tetapi cara mendapatkannya yang membuatnya menjadi haram. Contohnya adalah makanan hasil curian, perampokan, penipuan, perjudian dan lain sebagainya yang dilarang Islam. Makanan seperti ini jelas diharamkan Islam. Orang yang memakan makanan tersebut tidak akan mendapatkan barakah dari Allah SWT.

Banyak kisah-kisah menarik yang menceritakan bagaimana perbedaan antara keluarga yang dinafkahi dengan makanan halal dan keluarga yang dinafkahi dengan makanan haram. Keluarga pertama tergolong kedalam keluarga yang kurang mampu. Sang ayah bekerja hanya sebagai petani biasa dengan penghasilan yang pas-pasan. Putra-putri keluarga mereka tumbuh sehat jasmani dan rohaninya, berakhlak mulia dan cerdas sehingga orang tuanya sangat menyayangi mereka. Sedangkan keluarga kedua tergolong kedalam keluarga mampu. Sang ayah adalah seorang rentenir, menafkahi keluarganya dengan uang riba. Mereka selalu mengeluh karena kelakuan putra-putrinya yang membuatnya kesal. Dalam hal ini, makanan menjadi faktor utama sebagai penyebab perbedaan pertumbuhan akhlak anak-anak mereka. Karena makanan yang dikonsumsi akan menjadi darah dan daging orang tersebut. Maka para orang tua harus selalu waspada terhadap makanan yang ia nafkahkan kepada keluarganya. Apakah ia termasuk makanan halal atau haram.

Dalam kitab Ihya `Ulumiddin, Hujjatul Islam Imam al-Ghazali mengatakan bahwa para istri yang hidup di tiga zaman (sahabat, tabi`in dan atba` tabi`in) mempunyai tradisi tersendiri. Jika para suami mereka akan keluar mencari rezeki, mereka berpesan, “Takutlah kepada Allah, dan janganlah memberi makan kami dari barang haram. Sesungguhnya kami masih bisa sabar terhadap kelaparan, akan tetapi kami tidak tahan terhadap siksa neraka.”

Riwayat diatas menggambarkan betapa makanan haram itu sangat dihindari oleh para sahabat. Mereka lebih memilih kelaparan ketimbang merasakan pedihnya azab api neraka. Namun peristiwa tersebut sangat bertolak belakang dengan keadaan masyarakat masa kini. Mayoritas masyarakat sekarang tidak peduli dengan status hokum makanan, apakah ia termasuk halal atau haram. Tidak pernah mencoba untuk berpikir apakah rezeki yang ia dapatkan sudah sejalan dengan syariat Islam atau tidak.

Sikap memilukan tersebut saat ini berlaku bagi banyak orang miskin ataupun orang kaya. Bagi si miskin, mendapatkan makanan untuk memperpanjang hidup mereka adalah tujuan utama. Sementara bagi si kaya, bagaimana caranya agar bisa menikmati hidangan yang enak, tanpa peduli dengan cara mendapatkannya.

Makanan haram di sekitar kita

Makanan haram sudah menyelinap dan menyatu bersama makanan halal. Status atau label halal yang ada disetiap kemasan makanan hanya sedikit membantu. Ada pihak-pihak yang hanya sekadar menempekannya saja, tanpa memenuhi standar kualitas atau melalui pengujian instansi yang dapat dipertanggung­jawabkan. Dalam banyak produk, sulit bagi kita untuk membedakan antara makanan halal dan haram.

Cukup banyak makanan kaleng ter­­­utama yang ber­­asal dari luar negeri yang mem­punyai label ha­lal, tetapi label tersebut dibuat oleh pihak pabrik. Label halal tidak dibuat atau dike­luarkan oleh pab­rik, tapi di­keluar­kan oleh MUI se­telah dilakukan­ pengkajian ter­hadap produk ter­sebut di labo­ratorium, yang da­lam hal ini MUI bekerja sama dengan Balai Peng­awasan Obat dan Makanan (POM).

Menurut Pimpinan Pondok Pesantren Ulil Albab, Bogor, Didin Hafidhuddin, seperti dilansir di Republika Online (10/12/08), rendahnya kesadaran umat Islam terhadap makanan halal karena kurangnya sosialisasi akan pentingnya kehalalan sebuah makanan. Selama ini mereka hanya mengetahui bahwa makanan haram adalah daging babi, darah ataupun daging hewan sembelihan yang tak disebutkan nama Allah dalam penyembelihannya. Padahal ada makanan yang merupakan hasil dari sejumlah bahan yang bisa saja mengandung bahan haram. Ini menjadi tugas bersama, pemerintah dan masyarakat. Dengan demikian, mestinya ada langkah sinergis untuk melakukan upaya sosialisasi kepada masyarakat mengenai makanan halal tersebut. ‘’Departemen agama, LPPOM MUI, LSM, bahkan perguruan tinggi, dapat bersinergi untuk melakukannya,’’ papar Didin.

Lembaga-lembaga tersebut dapat melakukan riset makanan mana saja yang statusnya halal dan mana yang haram. Kemudian mereka mensosialisasikan produk makanan tersebut kepada masyarakat. Dengan demikian, masyarakat akan mendapat informasi yang cukup dan dapat memilih makanan yang halal saja.

Bentuk sosialisasi dapat dilakukan dengan banyak cara. Di antaranya dengan menerbitkan buku-buku yang memuat informasi tentang makanan halal dan haram serta bahayanya bagi kehidupan. Peran ulama juga sangat dibutuhkan untuk menyadarkan masyarakat akan bahaya makanan haram. Allah melarang untuk mengonsumsi makanan haram bukan hanya untuk menguji ketaatan umat-Nya saja, melainkan lebih dari itu, karena mudharat yang ditimbulkan lebih banyak dari manfaatnya.

Bagi masyarakat yang sudah mengenal baik karakteristik makanan haram, diharapkan agar lebih hati-hati dalam memilih makanan. Selain lebih waspada terhadap label halal MUI, umat Islam juga harus lebih berhati-hati terhadap tempat yang didatangi apakah dikelola seorang Muslim atau bu­kan. Dan ten­tu saja tidak lupa untuk meng­­ucapkan basmalah sebelum mengonsumsi makanan tersebut. Jika se­mua proses ter­sebut sudah ditem­puh, maka kebenaran hanyalah milik Allah. Manusia hanya bisa ber­usaha, namun Allah-lah yang me­nentukan segalanya. Wallahu a’lam bish shawab...

Oleh Ahmad Kali Akbar
Mahasiswa Institut Studi Islam Darussalam

 Keyword: Makanan Haram Menurut Pandangan Islam | Akhbar Islam | Artikel Islami

Pengaruh Makanan dalam Meredakan Penyakit

Oleh: Herbalis Bahrain Samah, RH (AHG), terbit dalam akhbar Sinar Harian edisi KL/Selangor pada 20 November 2012.
 
Orang ramai patut mendidik diri mengamalkan cara hidup holistik termasuk dalam hal pengambilan makanan

     Makanan tertentu   bukan sahaja mampu meredakan rasa sakit yang dialami malah sesetengahnya berupaya memendekkan tempoh penyakit yang sedang dialami. Antioksidan merupakan bahan yang terdapat dalam pelbagai jenis makanan bukan sahaja mampu menutralkan radikal bebas malah berfungsi meredakan rasa sakit yang sebahagian besarnya berpunca dari keradangan.

  Luka kerana tercedera atau selepas menjalani pembedahan biasanya menimbulkan rasa sakit.  Rasa sakit yang dialami berpunca dari sel-sel yang mengeluarkan bahan kimia yang menyebabkan rasa sakit di mana ia bertujuan memberi isyarat agar sistem imiun mengambil tindakan untuk membuang bahan-bahan yang tidak berguna dan menjalankan proses pemulihan tisu. Proses pembuangan bahan-bahan tidak berguna juga sebenarnya menghasilkan keradangan yang mana ia juga menyebabkan rasa sakit.
    Rasa sakit berpunca dari kedua-dua jenis luka ini boleh diredakan dengan mengambil suplemen minyak hati ikan kod dan vitamin C dos tinggi (2,000 - 3,000 mg sehari). Suplemen yang dikenali sebagai makanan tambahan memang patut dikategorikan sebagai makanan. Ia kerana FDA (Jabatan Pertanian Amerika) mengawalnya sebagai bahan makanan walau pun pengawalannya berbeza dari ubat-ubatan dan makanan konvensional. 
Manfaat agen anti keradangan
   Seseorang yang sakit kerongkong berpunca dari keradangan tonsil misalnya biasanya cepat sembuh dengan mengambil minyak hati ikan kod dan vitamin C. Begitu juga kedua-dua bahan ini juga sesuai diambil oleh mereka yang mengalami flu yang biasanya mengalami simtom-simtom yang tidak selesa termasuk rasa sengal-sengal seluruh tubuh. Pada masa sama herba bersifat antivirus seperti Neem (mambu) amat membantu untuk memendekkan tempoh penyakit.
Penyakit-penyakit yang ringan seperti sakit kepala atau migren boleh diredakan dengan mudah dengan mengambil teh bunga kekwa (crysanthemum). Teh bunga kekwa dalam kotak atau tin tidak sesuai. Mengapa? Ia mengandungi gula (fruktos, dari sirap jagung tinggi fruktos) dan pewarna tiruan. Teh bunga kekwa disediakan dengan merendam 1 sudu besar bunga kekwa kering dengan secawan air panas. Tutup cawan selama 10-15 minit.
   Sakit kepala dan migren biasanya berpunca dari keradangan. Teh bunga kekwa sesuai diambil sepanjang masa terutama oleh mereka yang berkerja menghadap skrin komputer sehari suntuk. Ia sesuai diambil secara berterusan kerana ia membantu mentona dan menguatkan fungsi hati selain membantu mengharmoni fungsi sistem imiun.
    Yang paling penting ketika mengalami kesakitan berpunca dari penyakit tertentu ialah mengelakkan makanan-makanan yang memburukkan penyakit yang sedang dialami. Jika mengalami batuk, artritis, radang paru-paru, bronkitis, demam selsema, flu, dalam proses pemulihan dari luka yang teruk, selepas menjalani pembedahan atau kanser anda perlu mengurangkan makanan tertentu.
   Makanan bergoreng secara terendam lama, makanan hangus, makanan terproses, marjerin, makanan tinggi gula, daging adalah antara makanan yang memburukkan keradangan. Oleh sebab keradangan adalah punca kepada rasa sakit maka dengan mengelakkan makanan-makanan yang disebutkan dikatakan berupaya mengelakkan rasa sakit atau mengurangkan rasa sakit yang sedang dialami. Makanan-makanan yang disebutkan juga sebenarnya menggangu sistem imiun dari berfungsi dengan sempurna.
   Kesempurnaan fungsi sistem imiun sistem amat diperlukan dalam memendekkan tempoh penyakit yang sedang dialami. Namun kebanyakan doktor dikatakan masih memandang remeh terhadap berpantang dalam bentuk makanan yang masih diamalkan oleh sebahagian pesakit. Pengamal-pengamal perubatan alternatif pakar biasanya mengetahui sebab akibat berpunca dari sesuatu yang difikirkan membawa manfaat atau keburukan kepada kesiahatan seseorang.
   Sebahagian mereka mencadangkan berpantang berdasarkan amalan orang dulu-dulu. Manakala pengamal-pengamal yang mahir dalam ilmu sains terutama ilmu biokimia pula berupaya menerangkan tindak-balas kimia yang berlaku apabila seseorang mengambil sesuatu jenis makanan (atau faktor-faktor lain yang memperngaruhi keradangan) yang bersifat meningkatkan keradangan.
    Tidak kira samada cadangan dari seorang pengamal perubatan alternatif itu ialah dari jenis pertama atau kedua dalam memahami makanan mana yang sesuai dan makanan mana yang tidak, dengan mengelakkan makanan yang meningkatkan keradangan diercayai berbaloi dibandingkan dengan bergantung kepada ubat-ubatan tahan sakit yang dipreskripsi oleh doktor.
    Mengapa ia lebih berbaloi? Mengamalkan pengambilan makanan yang sesuai dan mengelakkan makanan yang memburukkan lagi keadaan penyakit dan keradangan yang sedang dialami membantu tubuh dalam banyak segi. Antaranya ialah memulihara kesihatan sel dan secara keseluruhan mengharmoni fungsi pelbagai sistem tubuh. Dalam kes penyakit-penyakit yang disebutkan di atas tadi ia membantu mengharmoni dan memulihara sistem imiun agar ia dapat berfungsi dengan sempurna.
Berpantang
    Kebanyakan doktor tidak setuju dengan berpantang dalam bentuk makanan diamalkan oleh penghidap kanser. Mereka beranggapan bahawa mengelakkan dari makan makanan tertentu akan menyebabkan penghidap kanser kurang makan terutama kepada mereka yang kurang mampu dari segi ekonomi untuk memilih makanan. Sebab lain ialah makanan-makanan yang menjadi pantang larang ialah makanan yang biasa dimakan oleh seseorang sepanjang hidupnya. Berpantang dibimbangi akan menurunkan selera makan terhadap kebanyakan jenis makanan.
    Memang tidak dinafikan apabila kurang makan penghidap kanser akan mengalami kekurangan nutrien. Namun  jika dilihat dari perspektif perubatan alternatif, penghidap kanser yang mengelakkan makanan-makanan yang dipercayai memburukkan kanser yang sedang dialami masih mempunyai banyak makanan lain sebagai pilihan. Daging misalnya boleh digantikan dengan ikan yang juga sumber protein dan juga bersifat antikeradangan.
   Mengelakkan dari makanan terproses, makanan bergula tinggi, makanan bergoreng secara terendam lama, makanan hangus dan marjerin misalnya amat mudah diamalkan oleh semua orang. Mengambil yang direbus dan meningkatkan makanan berantioksidan seperti pelbagai jenis sayur-sayuran dan buah-buahan adalah kerja mudah.
   Dari satu segi doktor yang meremehkan pantang-larang dalam bentuk makanan ini dikatakan klurang berinitiatif untuk mendidik pesakit. Mereka dikatakan lebih memberi perhatian kepada kekesanan ubat-ubatan yang dipreskripsi. Hakihatnya mengpreskripsi ubat-ubatan moden memang tugas utama yang dilakukan oleh sebahagian besar doktor di dunia kerana ia diajar dalam kurikulum di bangku universiti iaitu mendiagnos dan mempreskripsi ubat-ubatan yang sesuai. 

Makanan segera, iklan dan kegemukan

Oleh Isma Ismail

TUBUH montok atau 'bulat' ketika kanak-kanak memang comel dipandang walaupun sebenarnya ia petanda kurang baik kepada bentuk fizikal yang kurang menarik apabila menjangkau dewasa.
Ada juga ibu bapa baru dikurniakan cahaya mata begitu mengimpikan agar mendapat anak montel kerana selain comel, ia juga dianggap anak mereka itu sihat. Sebaliknya, tanpa disedari ia boleh mengundang kepada pelbagai jenis penyakit atau masalah obesiti ke tahap kritikal.

Masalah obesiti terutama di kalangan kanak-kanak menjadi hangat baru-baru ini, hingga pada satu ketika ada cadangan larangan penjualan nasi lemak yang didakwa menjadi antara punca utama kepada masalah berat badan berlebihan.
Larangan itu menyebabkan banyak pihak tampil mempertikaikan cadangan itu kerana ada yang mendakwa penyumbang utama kepada menularnya gejala obesiti di kalangan murid sekolah adalah berkaitan dengan budaya pemakanan masyarakat Malaysia itu sendiri. Budaya makan malam seperti makan lewat malam di restoran 24 jam dan restoran makanan segera dikatakan paling ketara menjadi amalan.

Pakar Perunding Pediatrik, Datuk Dr Zulkifli Ismail, pernah mengakui masalah obesiti atau kegemukan di kalangan kanak-kanak semakin serius apabila dianggarkan 40 peratus berlaku berikutan gaya hidup ibu bapa yang gemar membawa keluarga makan di luar terutama pada waktu malam.

Menurutnya, masalah lebih ketara terutama di kawasan pantai barat seperti di Lembah Klang yang sudah menjadi kebiasaan dengan cara hidup sedemikian. Berdasarkan masalah berkaitan, dapat dilihat restoran makanan segera antara penyumbang kepada masalah obesiti.
Ada yang mendakwa siaran iklan makanan segera menerusi televisyen membawa kepada pengaruh besar terhadap budaya itu di negara ini, sekali gus ada pihak yang mahukan kerajaan mengawal siaran iklan berkenaan sebagai satu langkah untuk mengawal masalah obesiti yang melanda kanak-kanak ketika ini.

Kita wajar merenungi masalah berkaitan penyiaran iklan kerana penyelidik di Biro Penyelidik Ekonomi Nasional di Amerika Syarikat juga menyatakan larangan terhadap siaran promosi makanan segera boleh membantu mengurangkan jumlah kanak-kanak yang mempunyai masalah berat badan berlebihan.
Pakar Ekonomi Universiti Lehigh, Pennsylvania, Shin-Yi Chou berkata, berdasarkan penyelidikan yang dilakukan menyatakan adalah sesuatu yang praktikal untuk mengenakan peraturan larangan berkenaan yang kini hanya dilakukan di Sweden, Norway dan Finland.

“Kita ketahui kegemukan di kalangan kanak-kanak sudah meresapi budaya kita (AS), tetapi penyelidikan berasaskan pengalaman sebenar untuk mengenal pasti pengiklanan televisyen sebagai kemungkinan punca tidak banyak dilakukan,” katanya.

Dipetik penjelasannya, penyelidikannya tertumpu kepada bilangan jam yang menyampaikan mesej iklan restoran makanan segera di televisyen yang ditonton setiap minggu oleh kanak-kanak.

“Hasilnya, kami mendapati larangan terhadap pengiklanan itu akan mengurangkan bilangan kanak-kanak yang mempunyai lebihan berat badan berusia antara tiga hingga 11 tahun dalam jumlah penduduk tetap sebanyak 18 peratus dan boleh mengurangkan bilangan remaja yang mempunyai lebihan berat badan berusia antara 12 hingga 18 tahun sebanyak 14 peratus,” katanya.

Kajiannya turut mendapati, kanak-kanak menonton purata kira-kira 20,000 iklan yang disiarkan di televisyen di negara itu setiap tahun pada lewat 1970-an, ia kemudiannya meningkat sehingga 30,000 iklan setiap tahun pada akhir 1980-an dan lebih daripada 40,000 iklan setiap tahun pada akhir 1990-an.

Menurutnya, keadaan itu menyebabkan iklan menjadi satu pengaruh besar kepada minda kanak-kanak dan iklan makanan segera juga didapati menjadi daya penarik utama kepada golongan itu.

Kementerian Kesihatan pada 2009 menerusi Menterinya, Datuk Seri Liow Tiong Lai juga dipetik sebagai berkata bahawa kerajaan akan melaksanakan pelbagai usaha untuk mengawal aktiviti pemasaran dan promosi makanan segera bagi mendidik masyarakat mengamalkan pemakanan sihat.

Beliau berkata, antara langkah yang akan diambil ialah memperkukuhkan pengawalan iklan makanan segera menerusi televisyen selain menambah slot dan kekerapan penyebaran mesej pemakanan sihat menerusi radio, televisyen, surat khabar serta majalah tempatan.

“Kecenderungan mengambil makanan segera dengan kerap memang membahayakan kesihatan kerana makanan yang dihidangkan di restoran makanan segera tinggi kalori, lemak, garam dan gula,” katanya.

Liow berkata, kementerian juga akan menggubal dasar dan peraturan yang membantu mengawal pemasaran, promosi dan penjualan makanan segera di negara ini.

“Antara usaha lain diambil adalah mengawal pengiklanan makanan segera ketika rancangan kanak-kanak di televisyen dan mewajibkan pelabelan kandungan zat pada makanan segera,” katanya.

Sesuatu perlu dilakukan kerana masalah obesiti di kalangan kanak-kanak menurut Pertubuhan Kesihatan Sedunia (WHO) adalah kian meningkat dan sangat membimbangkan. Berdasarkan perangkaan WHO didapati kanak-kanak prasekolah yang mengalami lebihan berat badan di Asia dijangka meningkat 4.9 peratus menjelang 2020 nanti berbanding hanya 3.2 peratus pada 1990.

Peningkatan ketara dalam masalah berat badan berlebihan kanak-kanak disebabkan banyak faktor. Satu sebab utama adalah perubahan diet ke arah makanan yang tinggi lemak dan gula serta kurang nutrien penting. Makanan ini mengakibatkan kanak-kanak mengambil tenaga yang lebih daripada apa yang mereka perlukan dan tenaga berlebihan ini akan ditukar dan disimpan sebagai lemak.

Contoh makanan penuh tenaga yang disukai kebanyakan kanak-kanak ialah naget goreng, kentang goreng, bebola ayam goreng, minuman berkarbonat dan kordial.

Berdasarkan saranan WHO, pengambilan gula tidak boleh melebihi 10 peratus daripada tenaga harian maka kanak-kanak berusia satu hingga tiga tahun tidak boleh mengambil lebih daripada lima sudu teh atau 25 gram gula sehari dan kanak-kanak empat hingga enam tahun tidak boleh mengambil gula tambahan lebih daripada tujuh sudu teh atau 35 gram sehari.

Antara kemungkinan sebab lain adalah kewujudan makanan segera. Biasanya, makanan ini mengandungi daging yang tinggi lemak dan bijirin kisar. Makanan terbabit juga dihidang bersama air berkarbonat manis yang mengandungi sehingga lapan sudu teh gula tambahan.

Kanak-kanak yang mengalami obesiti ini berisiko menghadapi pelbagai masalah kesihatan termasuk tekanan darah tinggi, tahap kolesterol tinggi serta kurang keberkesanan insulin.

Semua masalah itu meningkatkan lagi risiko kencing manis, penyakit jantung, strok serta sesetengah jenis kanser apabila mereka meningkat dewasa.

Apa pun juga penyebab berlakunya masalah obesiti di kalangan kanak-kanak negara ini, peranan utama dalam membentuk mereka ke arah kehidupan yang sihat adalah bermula daripada amalan pemakanan keluarga dan pemakanan harian mereka di rumah.

Antara langkah yang perlu dititikberatkan oleh ibu bapa menurut pakar pemakanan adalah dengan memastikan seluruh ahli keluarga terbabit dalam proses pemakanan yang lebih sihat, kerana ia akan mengurangkan perasaan terpencil dalam proses itu. Pastikan bila memilih makanan, makanan itu seharusnya mempunyai kandungan tinggi dalam serat dan lemak yang rendah.

Jika ada anak berusia lebih dua tahun, menggunakan susu yang rendah lemak boleh membantu mengurangkan berat badan. Paling penting sekiranya ibu bapa dapat membantu kanak-kanak mengamalkan senaman termasuk pastikan anak bermain dengan kanak-kanak lain, seluruh keluarga menjalankan senaman seperti berbasikal atau berlari dan pastikan juga anak aktif dalam aktiviti kokurikulum.

Pakar juga menyarankan agar kanak-kanak dikawal dan dikurangkan menonton televisyen.

Penulis wartawan Harian Metro
Artikel ini disiarkan pada : 2011/07/22